Be a jury at the Global March to Jerussalem
Entah ini rendah diri, rendah hati atau sekedar menyatakan fakta diri karena tak mau dinilai terlalu tinggi (over estimate).
Dulu di Cianjur, saya punya mutarobbi namanya Raihani (bukan nama sebenarnya). Sekarang dia jadi guru di Nurul Fikri Boarding School Lembang. Waktu dia menawari saya menjadi juri Orasi atau Mading di NF dalam rangka safari Global March to Jerussalem, saya langsung menolak. Kalau jadi juri lomba puisi mungkin saya bisa karena saya suka baca puisi, pernah jadi juri Lomba Puisi di UNIDA dll, pernah ikut Teater Kampus (walaupun ga begitu total) & pernah jadi pengisi acara Apresiasi Puisi Indonesia, suatu program nonkomersil yang pernah saya & Linda Novlinda Asuh di Radio Siaran Pemerintah Daerah Cianjur 95 FM.
Saya pikir, saya hanya alumni Perguruan Tinggi Swasta di suatu kota kecil di Jawa Barat, yaitu Cianjur. Di Kampus Peradaban ini, banyak sekali “sosok-sosok berkilau” alumni PTN Ibu Kota Provinsi/Ibukota Negara yang lebih layak jadi juri. So…saya rekomendasikan saja Bu Sri Maryani & Bu Tuty Afiatun untuk jadi juri lomba Mading & Orasi.
Beberapa hari kemudian ada info bahwa juri untuk Lomba Membuat & Mendeklamasikan Puisi belum ada dan mutarobbi saya kembali menawari saya. Akhirnya setelah consult ke MR & dipertimbangkan lagi, saya menerima tawaran itu.
Jadilah saya berangkat ke NF dititemani oleh Bu Miftahul Zannah, S.Si. our beloved Biology Teacher tea.
Dari pukul 08.30 sampai dzuhur adalah opening ceremonial. Ada sambutan dari Ketua Pelaksana Global March to Palestine, Muhammad Ali Nursidi. Ada sambutan dari Syaikh Palestine, Abdurrahman Syihab, ada Live Performance dari IZZIS, keliling-keliling ke beberapa stand makanan, pakaian dlll.
Oh ya, as we know from uncle Google or aunt Wiki, Global March to Jerusalem (GMJ) adalah sebuah gerakan yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman nyata terhadap Yerussalem dan seluruh wilayah Palestina dari tangan keji Zionis.
Kini, 41 delegasi dari berbagai negara di lima benua telah menyatakan diri untuk bergabung dalam aksi Global March to Jerusalem (GMJ), termasuk Indonesia.
Aksi solidaritas dunia bagi Yerusalem ini akan diwujudkan dalam bentuk long march dan aksi damai yang digelar di empat negara yang berbatasan dengan Palestina; Mesir; Yordania; Suriah; dan Libanon, diikuti berbagai kegiatan solidaritas lainnya yang akan digelar dibeberapa kota besar di Indonesia.
Nah, aneka lomba Puisi, Orasi, Mading & Graffiti bertema Palestina ini merupakah salah satu dari rangkaian kegiatan GMJ. Pesertanya, Alhamdulillah, tidak hanya dari boarding school saja, yang memang identik dengan afiliasi terhadap nilai-nilai islam, tapi juga dari sekolah umum, seperti SMKN 7 Lembang, SMAN 1 Lembang dll. Well, there’s no something special that can I tell about Poem Competition. Standar aja.
GMJ sendiri bertujuan untuk menyatukan berbagai upaya umat/sipil secara damai, baik Arab, Islam, Kristen, Yahudi, dan nurani kemanusiaan dunia untuk mengakhiri kedegilan Israel atas hukum internasional dengan terus mencaplok kota Yerusalem dan wilayah-wilayah Palestina lainnya.
Jadi, ya Yahud…bersiap-siaplah menghadapi jutaan demonstran dari berbagai Negara!!!
Khaibar…Khaibar ya Yahud! Ja’isyu Muhammad saya’ud!!! ALLAHU Akbar!!!
Ini Villa atau Sekolah???
“Ga bisa kabur & tak akan betah” adalah hal yang terus terbersit di benak saya sepanjang perjalanan dari pasar Lembang ke Nurul Fikri Boarding School, Cibodas, Lembang (selanjutnya kita sebut saja NF). Bukan berarti selama di As ASyifa saya pernah punya niat kabur ya, hehe.
Lokasi NF…maasyaALLAH…jauh kemana-mana. Dari jalan utama henya ojeg yang jadi kendaraan umum ke sana, biayanya Rp 10000,00. Saya pikir Rp 10000,00 terlalu murah untuk jarak sejauh itu, dengan medan berkelok-kelok, turun naik dan diapit oleh jejeran tumbuhan lebat, menjulang & “hieum”.
NF sendiri kesannya ekskusif, mewah, bersih, modern & mungil. Hampir setiap bangunan bercat cerah atau coklat classy. Perangkat multimedia (seperti TV LCD, infokus, speaker) dispenser & rak buku ada hampir di semua ruangan. Taman-taman terhampar rapi, nyaris terlalu rapi sehingga terkesan artificial. Untungnya berhembus udara sejuk yang membantu mengembalikan kesan alami. Hijab antara siswa putra-putri, antara guru ikhwan-akhwatnya agak longgar. Ah…melebar nih komentar saya.
Saya sendiri sampai berpikir, “Ini sekolah atau villa/hotel?” Hehe…
Anehnya, jika melihat rumput tetangga yang lebih hijau, kita biasanya merasa iri atau tak puas diri. Yang terjadi dengan saya justru sebaliknya.
Ketika di NF malah terbayang kebersahajaan Pak Fahri (kepala BPP As Syifa Boarding School) dll yang berangkat ke kantor atau ke Mesjid As Suwedy dengan ontelnya. Allahu a’lam..I never mind to licked.
Coba lihat gambar rumah di atas, rumah kayu yang berkaca disertai taman & tenda adalah rumah mudir NF. Rumah mudir kita keren kan? Sederhana, sama saja dengan rumah guru/karyawan lain.
Terbayang anak-anak yang makan sambil lesehan, lalu mencuci piring masing-masing. Karena di NF dinning roomnya mirip resto cepat saji & anak-anak tidak mencuci piring sendiri. Gubrak!!! Sampai segitunya..
Terbayang para huffadz akhwat beriringan di sore hari mengajar di TPQ tanpa dibayar, hehe…terbayang mutarobbiku ngabring ngisi mentoring di SMPN 2 Jalan Cagak tiap Jumat, di tengah panas terik..kondisi yang kadang ana sendiri malas beraktifitas di luar perpust.
Terbayang pola interaksi Bapak Bunda di sini yang hijabnya insyaALLAH relatif terjaga, demikian juga hijab antara siswa putra & putri.
Terbayang aktivitas-aktivitas dakwah amah kita: tarhib Ramadhan, Idul kurban, sumbangan SDM, SDE (Sumber Daya Ekonomi) & sarana kita di SMP lain, majlis taklim Ibu-Ibu, DPD PKS dll…sampai-sampai ada yang komen: DPD PKS Kabupaten Subang??? Ya As Syifa itu! Hehe.
Terbayang hafalan Quran saya yang bertambah 8x lipat sejak kerja di sini. Jika kerja di “dunia normal” (di luar boarding) atau di boarding lain yang tak punya LTQ mungkin hafalan saya stagnan berhenti di titik 1,25 juz. Jarang-jarang kan Boarding School yang juga memiliki Lembaga Tahfidz Quran di bawah satu lini/yayasan?
Safar memang selalu membawa keinsyafan ya.
Jujur saja, saya pernah berpikir begini;
1. Duh, BT di As Syifa ruang kontribusi dakwahnya sempit…cuma pegang 1 halaqoh, padahal dulu di Cianjur pegang 3 halaqoh. Belum lagi rutin multaqo, dauroh murobbi, direct selling, jalasah ruhiyah, MUTU dll.
2. Kok kita ekskusif sih, kurang berbaur dengan masyarakat sekitar? Kurang beramal jamai di siyasi, thullaby DPD dll. Dakwahnya kurang terasa sama masyarakat sekitar. Kadang di sini sengaja mengakrabkan diri dengan Ibu Mimin dkk dari dapur, Ibu Rina dari Cleraning Sevice, tapi tetep saja rasanya jauh dari dinamisme “dunia normal”.
3. Aduh…As Syifa jauh kamana-mana, ka Perpustakaan Daerah/PUSTDA, Pasar Induk, Masjid Agung Kabupaten, DPD PKS dll…Mungkin itu karena rumah sederhana saya di Cianjur cuma 2,5 km jaraknya dari PEMDA, PUSTDA, pasar induk, Mesjid Agung, SMP tempat saya mengajar. Sampai-sampai, jika “kantong” sedang tipis saya bisa jalan kaki saja ke SMP, PUSTDA, DPD dll & teman-teman menjuluki saya “Si Kaki Besi”, hehe.
4. Wah, biaya pendidikan di sini mahal banget ya. (Padahal boarding lain jauh lebih mahal)
5. Ko, ikhwan sini kurang gadhul bashor ya?
Eit, dari mana kita tahu bahwa ikhwan tertentu kurang gadhul bashar, jangan-jangan karena kita sendiri kurang gadhul bashar??? Sigh!
6. Kok anak-anak sini ga boleh terlalu ditegasan & dituntut lebih mengeluarkan “potensi diri ” ya/ (misal dalam hal ziyadah, kedisiplinan dll).
Padahal, mentee saya yang sekarang jadi guru tahfidz di SMAIT As Syifa, ketika minta apresiasi atas kinerjanya dari murid-muridnya, 99 % muridnya menjawab; BUNDA kurang tegas & terlalu pemaaf. Kita-kita jadi pada datang telat, ziyadahnya sedikit. Afwan ya Bunda, ga apa2…tegas aja ke kami.
Sepulang dari NF saya justru bersyukur jadi bagian dari civitas akademika as Syifa al Khoeriyah yang inklusif,kontributif, bersahaja & lebih terasa tarbiyahnya.
Tak bisa dipungkiri, tiap lembaga pasti punya kelebihan & kekurangan, begitu pun lembaga kita. Tulisan ini tidak bermaksud memuji-muji lembaga sendiri & mengabaikan kekurangannya.
Bukankah kata Salim A. Fillah, BAROKAH adalah bertambahnya kebaikan dalam hal-hal yang kita kerjakan??? Tak perlu menunggu tempat yang lebih baik, gaji yang lebih besar & waktu yang lebih tepat untuk mencapai barokah. Di sini pun kita bisa menciptakan barokah kita sendiri
Bukankah, “Fainamaa tuwalluu fatsammaa wajhuLLAH…’? (QS 2; 115)
Bukankah, “Hidup tak mengenal siaran tunda & setiap detik adalah momentum?”
Yuk…kita berhenti mengeluh!
SEMANGAT!!!

o
BalasHapuswaaah nf bagus banget,saya mau masukin anak saya kesana,boleh minta alamat lengkapnya nf gak? terimakasih informasinya bu, afwan
BalasHapussyukron ibu atas pandangannya terhadap sekolah kami. lain kali main kesini lagi ya bu.
BalasHapusIya....Bapak/Ibu...afwan jika tersinggung. SEKALI LAGI....mengutip paragraf-paragraf terkahir; Tak bisa dipungkiri, tiap lembaga pasti punya kelebihan & kekurangan, begitu pun lembaga kita. Tulisan ini tidak bermaksud memuji-muji lembaga sendiri & mengabaikan kekurangannya.
HapusSaya dalam posisi BELUM TAHU kelebihan-kelebihan NF...mohon dimaklumi...semoga ke depannya saya lebih tahu. Terima kasih atas undangan Anda untuk datang berkunjung lagi ke sana n_n
Saya sering bilang ke anak-anak, As Syifa bukan boarding school terbaik, masih banyak yang lebih baik dari kita...NF, Al Kautsar dll ALLAHU a'lam