DUNIA SOPHIE, novel filsafat
By Jostein Gaarder
Ini adalah satu-satunya novel yang membuat saya tertatih-tatih membacanya. Berat euy…Banyak bagian yang penting yang terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa mencatatnya begitu saja. Membaca novel ini seperti “bersafari di dunia filsafat”…dikit-dikit menandai, dikit-dikit nyatet. Saya tak bisa membaca dengan Sistem Kebut Sehari (SKS) saat baca nih novel.
Oh ya, untuk buku fiksi (novel dll), saya memang suka SKS n hanya berani baca novel di akhir pekan or ketika libur shalat,hehe… coz suka kepikiran terus jika belum tau ending ceritanya…akhirnya pekerjaan & murojaah terganggu.
Jadi ingat, dulu baca Harry Potter ke-6, The Half Blood Prince 12 jam nonstop, dari jam 8 pagi sampai sekitar jam delapan malam…masyaALLAH…sampai nyuekkin ortu & makanan. Dan yang menyebalkan, ending cerita HarPot 6 BENAR-BENAR menggantung dengan meninggalnya sang maestro Hoghwart/mentornya Harry Potter yaitu Albus Dumbledore. Berhari-hari saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Tapi mau gimana lagi, belum ada novel ke-7 dan saya tak bisa maksa-maksa J.K. Rowling untuk segera membuat & menerbitkan novel lanjutannya. Sigh!! Berhari-hari pula sekan-akan dementor berkeliaran di sekitar saya…menghisap rasa optimis, harapan & keceriaan saya, hehe…lebay.com. Untunglah, waktu cepat berlari…meredakan rasa.
OK..back to the topic.
Anda yang berhasil tamat membaca buku ini sungguh beruntung coz sebagian besar orang yang saya kenal tak selesai membaca buku ini, pusing katanya atau berat atau tak ngerti. Saya sendiri..ya itu tadi; tertatih-tatih...terlambat-lambat (diksi dari mana nih? hehe)
Anda yang berhasil tamat membaca buku ini sungguh beruntung coz dari buku ini kita jadi tau aliran-aliran filsafa, beserta para filsuf & pemikiran mereka dari filsuf pertama (Socrates) sampai filsuf kontemporer macam Sartre dkk. So..kayak philosophy short course.
Filsuf Islam seperti Ibn Rushid dkk lebih keren menurut saya. Kalau mau short course tentang filsuf islam baca saja Remaja Doyan Filsafat. Why NOT? Karya Teguh Iman Perdana.
Tapi, apa pun itu…setelah membaca buku ini…saya malah jadi makin sadar akan ketinggian ajaran Islam & Al Quran…pemikiran-pemikiran para filsuf itu sebagian ada dalam al Quran/Islam, bukan ngaku-ngaku ya. Tapi yang lebih penting…talking about truth n faith…Islam lebih lengkap, logis & memuaskann akal, hati.
. Al islam ya’lu walaa yu’la alaih…
Masa sih? Tak percaya? Inilah prosa liris yang saya buat tentang isi novel Dunia Sophie
OK..check it out..our journey will be started.
Remaja Tanggung Baca Filsafat
Remaja tanggung baca filsafat
entah manfaat yang dia dapat ataukah pening jidat
mengembaralah ia dari Socrates hingga Sartre
RASIONALISME Socrates mengajari dia bahwa ada norma-norma abadi dalam hidup ini
manusia dapat sampai pada kebenaran itu dengan mengunakan akalnya.
Tidak akan...tidak akan...kebenaran itu bertentangan dengan hati nurani
Ide-ide Plato mengingatkan si Remaja Tanggung pada kisah tentang ruh di dalam al Quran;
Jiwa telah ada sebelum mendiami tubuh, dibekali ide-ide kesempurnaan/fitrah.
Manusia tinggal di dalam gua/dunia...semua fenomena duniawi hanyalah bayang2 dari bentuk kekal dieal yg ada di luar gua/negeri akhirat.
“Wah, yg beginian mah kiyai di kampungku juga tahu!”, seru si Remaja tanggung.
Lagi-lagi, pengetahuan sejati yang dipunyai manusia, hanyalah sebatas yang dipaham akal...ngandelin akal lagi...akal lagi.
Hmm...tak ada riangkah untuk “wahyu ilahiah??”
LOGISME Aristoteles menyentak si Remaja Tanggung.
Realitas tertinggi adalah apa yang dilihat manusia oleh indranya.
Pasti ada yang menyebabkan seluruh semesta bergerak & Tuhan ada di puncak tangga alam..
Penyebab Utama...Causa Prima...
MATERIALISME Hobbes terasa keterlaluan bagu si Remaja tanggung!
Kata Hobbes, semua fenomena alam semata hanya terdiri dari materi & partikel, meski pun itu “waktu” dan “kesadaran manusia”.
Jika segalanya, termasuk “waktu” dan “kesadarn manusia” bisa dihitung, diramalkan, diubah & direkayasa...lalu, di mana posisi Tuhan???
DESCRATES makin membuat bingung si Remaja Tanggung
“Corgito ergo sum”...”aku berfikir, maka aku ada”.
“aku” yang berfikir lebih nyata dari dunia nyata yang ditangkap indra...
“gagasan tentang kesempurnaan” pasti berasal dari “wujud yang sempurna”..taken fr granted, bukan dari kita yang tidak sempurna.
Sebaliknya, Locke dengan EMPIRISMEnya yakin...
Sebelum mengalami sesuatu melalui indra, “pikiran” benar-benar kosong.
But, however,,,Locke yakin bahwa akal manusia mampu mengetahui bahwa Tuhan itu ada.
Hume, si pengusung AGNOTISME dengan sok bijak berkata,
“Keberadaan Tuhan itu, tidak bisa dibuktikan kebenaran & ketidakbenarannya dengan akal/ilmu pengetahuan. Itu adalah masalah iman, bukan masalah pengetahuan. Omong kosong dengan rasionalisme!!!”
Anehnya, PSIKOANALISIS Freud’lah yang yang paling mengelitik rasa ingin tahu si Remaja Tanggung.
Kata Freud, “Tindakan manusia tidak selalu dituntun akal. Impuls-impuls irrasional juga turut menentukan fikiran, impian & tindakan manusia”.
Sampailah si Remaja Tanggung di Sartre,
Manusia dikutuk untuk bebas, “kutukan kebebasan” mengharuskan manusia menciptakan dunianya sendiri & bertanggung jawab terhadapnya.
Biar kata mati nista, keren juga kata-kata Sartre;
“Tidak bisa tidak, kehidupan manusia pasti punya arti. Kita sendirilah yang harus menciptakan artinya. Omong kosong dengan Nihilisme!!!”
Sebait ayat hafalan zaman SD berkelebat di benak si Remaja Tanggung;
“Faalhamahaa fujuu rohaa wataqwaahaa
Qod aflaha man zakkaahaa
Wa qod khooba man dassaahaa”.
“Hmm, Al Quaranku kereen!” renung si Remaja Tanggung
Apa jadinya jika si Remaja Tanggung ketemu dengan Ibnu Rushd dengan adagiumnya yang T.O.P B.A.N.G.E.T;?
“Tuhan menciptakan agama/WAHYU utnuk makhluk yang berakal. Jadi, kita harus menggunakan AKAL ( & indra) kita dalam beragama.”
Remaja tanggung baca filsafat,
Mungkin manfaat yang dia dapat
Mungkin saja dia taubat
Atau tetap pening jidat???